Pengikut

Senin, 16 November 2015

KONTRASEPSI IMPLAN (EFEKTIF DAN EFISIEN)

Tingginya pertumbuhan penduduk merupakan masalah utama bagi negara berkembang termasuk Indonesia. Indonesia menempati urutan keempat sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar (Imroni, M., Fajar, N.A., & Febry, F., 2009). Keadaan tersebut telah mempersulit usaha peningkatan dan pemerataan kesejahteraan rakyat. Usaha untuk mempertahankan kesejahteraan rakyat semakin besar apabila pertumbuhan penduduk semakin tinggi ( Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional, 2004 dalam Marliza, A., 2013). Pemerintah melakukan upaya menekan laju pertumbuhan dengan program Keluarga Berencana untuk mengatasi hal tersebut.
Keluarga Berencana (KB) merupakan usaha merencanakan jumlah dan jarak kehamilan menggunakan kontrasepsi (Everett, 2007 dalam Laely, F.N., & Fajarsari, D., 2011). KB merupakan hal terpadu dalam program pembangunan nasional (Handayani, 2010 dalam Suprida, 2013). Hal tersebut bertujuan untuk menciptakan kesejahteraan agar dapat dicapai keseimbangan dengan kemampuan produksi nasional. Program KB juga bertujuan untuk mewujudkan Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera (NKKBS). Keluarga Berencana dapat menyehatkan fisik, ekonomi, dan meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak (Baziad Ali, 2002 dalam Susanti, Wowor, P.M., & Hamel, R., 2013).
Salah satu bagian dari program KB nasional adalah KB implan. Implan adalah alat kontrasepsi berupa batang atau kapsul silastik yang berisi hormone progesterone. Implan dilakukan dengan cara memasukan batang atau kapsul silastik ke bawah kulit melalui insisi tunggal, dalam bentuk kipas (Hartanto,2004 dalam Laely, F.N., & Fajarsari, D., 2011). Implan terdiri dari 6 kapsul silastik, setiap kapsul berisi levornorgestrel sebanyak 36 mg dengan panjang 3,4 cm. Implan dilakukan pada bagian lengan atas atau bawah siku dan jangka perlindungan sampai lima tahun (Susanti, Wowor, P.M., & Hamel, R., 2013).
Implan merupakan alat kontrasepsi yang efektif dan efisien. Tingkat efektivas implan 97-99% dengan jangka waktu pemakaian lima tahun (Imroni, M., Fajar, N.A., & Febry, F., 2009). Pemasangan implan sederhana, dapat diajarkan, dan efek sampingnya sedikit. Implan memiliki daya guna yang paling tinggi dibandingkan alat kontrasepsi lain (Marliza, A., 2013)
Implan memiliki bebereapa kelebihan selain efektif dan efisien. Kelebihan implan antara lain dapat dicabut setiap saat sesuai kebutuhan, tidak mengganggu kegiatan senggama, dan ekonomis (Imroni, M., Fajar, N.A., & Febry, F., 2009). Kelebihan lain dari implan adalah cocok untuk wanita yang tidak boleh menggunakan obat yang mengandung estrogen dan tidak menaikkan tekanan darah (Sarwono, 1999 dalam Marliza, A., 2013). Pengguna implant memiliki resiko lebih kecil terjadinya kehamilan ektopik dibandingkan pengguna alat kontrasepsi dalam rahim (Sarwono, 1999). Pengembalian tingkat kesuburan bagi pengguna implan cepat setelah melakukan pencabutan (Imroni, M., Fajar, N.A., & Febry, F., 2009). Pengguna implan memiliki resiko lebih kecil terjadinya kehamilan ektopik dibandingkan alat kontrasepsi dalam rahim (Sarwono, 1999 dalam Marliza, A., 2013).
Implan memiliki sedikit efek samping. Efek samping dari kontrasepsi implan yang paling utama adalah gangguan menstruasi (Hartanto, 2004 dalam Laely, F.N., & Fajarsari, D., 2011). Gangguan menstruasi tersebut berupa amenore, spotting, perubahan dalam siklus, frekuensi, lama menstruasi, dan jumlah darah yang hilang (Laely, F.N., & Fajarsari, D., 2011). Implan mempunyai keluhan gangguan menstruasi yang lebih sedikit dibandingkan dengan kontrasepsi suntik DMPA. Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan di puskesmas 1 Purwonegoro Kabupaten Banjarnegara.

DAFTAR PUSTAKA
Imroni, M., Fajar, N.A., & Febry, F. (2009). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Penggunaan Implan di Desa Parit Kecamatan Indralaya Utara Kabupaten Ogan Ilir tahun 2009. Date Accessed on September 25th, 2015. Retrieved from http://eprints.unsri.ac.id/59/3/Abstrak3.pdf
Laely, F.N., & Fajarsari, D. (2011). Perbedaan Pengaruh KB Suntik Depo Medroxi Progesteron Asetat (DMPA) dengan KB Implan Terhadap Gangguan Menstruasi di Wilayah Kerja Puskesmas 1 Purwonegoro Kabupaten Banjarnegara tahun 2011. Date Accessed on September 25th, 2015. Retrieved from http://download.portalgaruda.org/article
Marliza, A. (2013). Faktor Faktor yang Mempengaruhi Rendahnya Minat Ibu untuk Memilih Implant sebagai Alat Kontrasepsi di Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan. Date Accessed on September 20th, 2015. Retrieved from http://e-journal.upp.ac.id/index.php/akbd/article/view/151/153
Suprida. (2013). Hubungan antara pendidikan dan umur ibu dengan pemilihan kontrasepsi implan di bidan praktik mandiri Rachmi Palembang tahun 2013. Date Accessed on September 20th, 2015. Retrieved from http://poltekkespalembang.ac.id/userfiles /files/hubungan_ antara_pendidikan_dan_umur_ibu.pdf
Susanti, Wowor, P.M., & Hamel, R. (2013). Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Minat Ibu terhadap Penggunaan Alat Kontrasepsi Implant di Puskesmas Ome Kota Tidore Kepulauan. Date Accessed on September 20th, 2015. Retrieved from http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/jkp/article/download/2246/1803