Tingginya pertumbuhan penduduk merupakan masalah
utama bagi negara berkembang termasuk Indonesia. Indonesia menempati urutan
keempat sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar (Imroni, M., Fajar, N.A., & Febry, F., 2009).
Keadaan tersebut telah mempersulit usaha peningkatan dan pemerataan kesejahteraan
rakyat. Usaha untuk mempertahankan kesejahteraan rakyat semakin besar apabila
pertumbuhan penduduk semakin tinggi ( Badan Koordinasi Keluarga Berencana
Nasional, 2004 dalam Marliza, A., 2013).
Pemerintah melakukan upaya menekan laju pertumbuhan dengan program Keluarga
Berencana untuk mengatasi hal tersebut.
Keluarga Berencana (KB) merupakan usaha merencanakan
jumlah dan jarak kehamilan menggunakan kontrasepsi (Everett, 2007 dalam Laely, F.N., & Fajarsari, D., 2011).
KB merupakan hal terpadu dalam program pembangunan nasional (Handayani, 2010 dalam Suprida, 2013).
Hal tersebut bertujuan untuk menciptakan kesejahteraan agar dapat dicapai
keseimbangan dengan kemampuan produksi nasional. Program KB juga bertujuan
untuk mewujudkan Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera (NKKBS). Keluarga
Berencana dapat menyehatkan fisik, ekonomi, dan meningkatkan kesejahteraan ibu
dan anak (Baziad Ali, 2002 dalam
Susanti, Wowor, P.M., & Hamel, R., 2013).
Salah satu bagian dari program KB nasional adalah KB
implan. Implan adalah alat kontrasepsi berupa batang atau kapsul silastik yang
berisi hormone progesterone. Implan dilakukan dengan cara memasukan batang atau
kapsul silastik ke bawah kulit melalui insisi tunggal, dalam bentuk kipas
(Hartanto,2004 dalam Laely, F.N., & Fajarsari, D., 2011).
Implan terdiri dari 6 kapsul silastik, setiap kapsul berisi levornorgestrel
sebanyak 36 mg dengan panjang 3,4 cm. Implan dilakukan pada bagian lengan atas
atau bawah siku dan jangka perlindungan sampai lima tahun (Susanti, Wowor, P.M., & Hamel, R., 2013).
Implan merupakan alat kontrasepsi yang efektif dan
efisien. Tingkat efektivas implan 97-99% dengan jangka waktu pemakaian lima
tahun (Imroni, M., Fajar, N.A., & Febry, F., 2009).
Pemasangan implan sederhana, dapat diajarkan, dan efek sampingnya sedikit.
Implan memiliki daya guna yang paling tinggi dibandingkan alat
kontrasepsi lain (Marliza, A., 2013)
Implan memiliki bebereapa kelebihan selain efektif dan
efisien. Kelebihan implan antara lain dapat dicabut setiap saat sesuai kebutuhan,
tidak mengganggu kegiatan senggama, dan ekonomis (Imroni, M., Fajar, N.A.,
& Febry, F., 2009). Kelebihan lain dari
implan adalah cocok untuk wanita yang tidak boleh
menggunakan obat yang mengandung
estrogen dan tidak menaikkan tekanan darah
(Sarwono, 1999 dalam Marliza, A., 2013).
Pengguna implant memiliki resiko lebih kecil terjadinya kehamilan ektopik dibandingkan
pengguna alat kontrasepsi dalam rahim (Sarwono, 1999). Pengembalian tingkat
kesuburan bagi pengguna implan cepat setelah melakukan pencabutan (Imroni, M.,
Fajar, N.A., & Febry, F., 2009). Pengguna implan
memiliki resiko lebih kecil terjadinya kehamilan ektopik dibandingkan alat
kontrasepsi dalam rahim (Sarwono, 1999 dalam Marliza, A., 2013).
Implan memiliki sedikit efek samping. Efek
samping dari kontrasepsi implan yang paling utama adalah gangguan menstruasi
(Hartanto, 2004 dalam Laely, F.N., & Fajarsari, D., 2011).
Gangguan menstruasi tersebut berupa amenore, spotting, perubahan dalam siklus,
frekuensi, lama menstruasi, dan jumlah darah yang hilang (Laely, F.N., & Fajarsari, D., 2011).
Implan mempunyai keluhan gangguan menstruasi yang lebih sedikit dibandingkan
dengan kontrasepsi suntik DMPA. Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian
yang dilakukan di puskesmas 1 Purwonegoro Kabupaten Banjarnegara.
DAFTAR PUSTAKA
Imroni, M., Fajar, N.A., & Febry, F. (2009). Faktor-Faktor
Yang Berhubungan Dengan Penggunaan Implan di Desa Parit Kecamatan Indralaya
Utara Kabupaten Ogan Ilir tahun 2009. Date Accessed on
September 25th,
2015. Retrieved from http://eprints.unsri.ac.id/59/3/Abstrak3.pdf
Laely, F.N., & Fajarsari, D. (2011). Perbedaan Pengaruh
KB Suntik Depo Medroxi Progesteron Asetat (DMPA) dengan KB Implan Terhadap
Gangguan Menstruasi di Wilayah Kerja Puskesmas 1 Purwonegoro Kabupaten
Banjarnegara tahun 2011. Date Accessed on September 25th, 2015.
Retrieved from http://download.portalgaruda.org/article
Marliza, A. (2013). Faktor
Faktor yang Mempengaruhi Rendahnya Minat Ibu untuk Memilih Implant sebagai Alat
Kontrasepsi di Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan. Date Accessed
on September 20th, 2015. Retrieved from http://e-journal.upp.ac.id/index.php/akbd/article/view/151/153
Suprida. (2013). Hubungan antara pendidikan dan umur ibu dengan pemilihan
kontrasepsi implan di bidan praktik mandiri Rachmi Palembang tahun 2013. Date
Accessed on September
20th, 2015. Retrieved from http://poltekkespalembang.ac.id/userfiles /files/hubungan_ antara_pendidikan_dan_umur_ibu.pdf
Susanti, Wowor, P.M., & Hamel, R. (2013). Faktor-Faktor yang
Berhubungan dengan Minat Ibu terhadap Penggunaan Alat Kontrasepsi Implant di
Puskesmas Ome Kota Tidore Kepulauan. Date Accessed on September
20th, 2015. Retrieved from http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/jkp/article/download/2246/1803
Tidak ada komentar:
Posting Komentar